WELCOME to pusatceritadewasaku.blogspot.com

Blog ini merupakan kumpulan Cerita Dewasa dimana dunia maya menyebutnya cerita dewasa, cerita seru, cerita lucah, cerita sex atau cerita porno. Blog ini akan terus kami update. Masukan dari pembaca kami ucapkan terima kasih

Monday, May 23, 2011

Balada Para Ibu Rumah Tangga - 1

Dikampungku aku biasa dipanggil Billy. Maklum postur tubuh yang tinggi besar dan wajah mirip londo membuat orang kampung mengidentikanku dengan turunan londo.

Sejak umur 15 tahun, aku dianggap orang kampungku sebagai anak yang punya kelebihan supranatural. Tak heran sejak umur segitu aku sering bergelut dengan hal yang sifatnya mistis, meskipun sebenarnya aku sendiri tak yakin aku bisa. Misalnya aku sering dimintai tolong sembuhkan orang kampung yang sakit perut, sakit bisul, muntah-muntah, atau sakit ringan lainnya. Dan entah kenapa tiap obat yang aku anjurkan pada mereka kok kebetulan menyembuhkan penyakitnya.

Sekarang ini usiaku 24 tahun, sedang kuliah di kota M dan tetap saja banyak yang percaya aku mampu dalam hal supranatural. Dikota M aku juga terkenal bisa menyembuhkan banyak penyakit, malah urusan seks yang dingin atau tak kunjung dapat momongan bisa langsung kontak aku di kota itu.

Suatu siang sehabis kuliah, aku kedatangan pasien wanita Susi namanya. Susi ini tahu alamatku diantar Retno, teman sekampusku yang dulu pernah kutolong waktu sakit malaria kronis dan sembuh.
"Tolong saya Mas Billy, suami saya kok suka jajan di luar dan nggak perhatian lagi sama keluarga," kata wanita beranak satu itu padaku. Sebenarnya aku bingung juga mau bilang apa, tapi karena dia memelas begitu aku jadi nggak tega. Susi aku suruh masuk kamar praktekku, sedangkan Retno tunggu diruang tamu rumah kontrakanku.
"Begini Mbak Susi, untuk menolong orang saya harus tahu ukuran baju, celana dan sepatu orang itu. Jadi berapa ukuran Mbak," kataku setelah kami duduk berhadapan dihalangi meja kerjaku.

Susi yang bertubuh agak pendek tapi seksi itu jadi bingung dengan pertanyaanku.
"Ehmm, anu Mas, berapa ya ukurannya.. tapi baju M celana 28 dan sepatu 37 mungkin pas Mas," jawabnya masih bingung juga.
"Oke-oke kalau nggak tahu pasti biar tak ukurkan ya," kataku sambil mengambil penggaris ukur dari kain.
Seperti penjahit baju yang terima pesanan aku mulai mengukur bagian tubuh Susi mulai bahu, dada, perut, pinggang, pinggul, plus kaki.
"Nah sekarang sudah ada ukuran pastinya, saya bisa bantu masalah Mbak," kataku, yang kelihatan membuat Susi berbinar karena merasa akan tertolong.

Susi pun mulai menceritakan perilaku Anto, suaminya. Sejak menikah dan punya anak, Anto masih setia, tapi beberapa bulan ini Anto mulai suka keluyuran dan suka jajan pada wanita lain.
"Saya jadi bingung Mas, kalo saya marah dia malah ancam mau cerai. Saya takut kalau dicerai Mas, bagaimana nasib anak saya," keluh wanita berkulit sawo matang itu.
"Ya sudah, itu masalah sepele kok Mbak. Nanti Mbak saya kasih susuk pemikat sukma supaya suaminya nempel terus kayak perangko," ucapku sekenanya. Kemudian aku menyuruh Susi menanggalkan seluruh pakaiannya termasuk pakaian dalamnya dan hanya menggunakan sarung bermotif kembang yang telah kusediakan untuknya.

Meski sempat ragu tapi Susi melakukannya juga. Sementara aku menyiapkan berbagai perlengkapanku, mulai kembang dan air dalam baskom, serta jarum susuk yang memang sudah lengkap tersedia di ruang praktekku.
"Nah sekarang Mbak berbaring di dipan itu ya, dan jangan banyak bergerak. Pokoknya konsentrasi pikiran pada suami Mbak dan sebut terus namanya," perintahku pada Susi. Bagai dicocok hidung Susi menurut saja dan segera berbaring di dipan dengan mata terpejam.

Untuk sesaat aku memperhatikan tubuh Susi dari kursi praktekku. Wow, boleh juga tubuhnya, bahenol walau agak mini. Aku menyiapkan kembang dalam baskom berisi air dan mendekati Susi yang terbaring di dipan kayu.
"Sabar ya Mbak, sebentar lagi kita mulai pengobatannya," kataku meyakinkan Susi.
Susi masih terpejam ketika kucipratkan air dan kembang yang kusiapkan tadi ke sekujur tubuhnya. Sengaja aku merapalkan mantra yang tak jelas dengan mulut komat-kamit persis dukun sungguhan.

Lalu setangkai kembang ditanganku kuusap-usapkan di wajah Susi dengan irama usapan yang searah jarum jam. Kulihat reaksi diwajah Susi menahan geli ketika kembang itu mulai kuusapkan di bagian leher dan terus turun kepangkal dadanya yang terbungkus sarung.
"Nah sekarang buka matanya Mbak," perintahku.
"Sudah selesai belum Mas Billy?," tanyanya tetap terbaring di dipan.
"Oh ya belum toh. Bagaimana Mbak ini maunya cepat, ini kan proses pasang susuk Mbak nggak boleh buru-buru. Kalau nggak cocok bisa fatal akibatnya," ujarku sekenanya.
"Terus sekarang apalagi Mas?," Susi makin penasaran.
"Maaf Mbak ya, sekarang Mbak turunkan sarung itu sebatas perut supaya saya bisa mendeteksi aliran darah Mbak. Biar susuknya tepat pasangnya gitu loh," kataku. Susi sempat melotot heran bercampur jengah, tetapi dia nurut juga menurunkan sarung yang membungkus tubuhnya sampai keperut dengan wajah malu-malu. Wah, boleh juga payudara wanita ini, kalau dikasih Bra kira-kira ukuran 36B lah, lumayan masih padat walau sudah beranak satu. Susi kembali terpejam, dan aku kembali mengambil kembang dan mencipratkan airnya ke arah buah dada dan perut Susi. Dengan kembang yang sama aku usap-usapkan di daerah dada dan perut Susi. Tubuh Susi mengelinjang kegelian waktu usapanku mulai menyentuh puting susunya.

"Oke.. boleh buka matanya Mbak," kataku setelah puas mengusap susu Susi dengan kembang.
"Wah, Mas kok lama sekali sih prosesnya," protes Susi, tapi tetap terbaring diranjang.
"Gimana ya jelaskannya Mbak, soalnya aliran darah Mbak aneh sih. Ini saja masih perlu deteksi lagi supaya ketahuan aliran darah aslinya. Tapi kalau Mbak mau stop ya terserah, saya tak bisa bantu lagi, gimana?," balasku dengan mimik serius.
"Iya deh saya pasrah, tapi sekarang apa lagi?," tanya Susi lagi.
"Maaf lagi ya Mbak, sekarang jalan satu-satunya supaya aliran darah Mbak kelihatan, Mbak harus tangalkan sarung itu. Telanjang bulat Mbak," pintaku dengan nada yang kubuat serius.
Meski kaget dan hendak protes, tapi Susi akhirnya nurut juga. Sarung yang dikenakannya ditanggalkan dan dibiarkan luruh kelantai, dan ia kembali berbaring di dipan kayu dengan mata terpejam.

Sekarang aku yang jadi bingung dan blingsatan melihat sesosok wanita bugil tanpa busana dihadapanku. Tubuh Susi benar-benar menggairahkan, rasanya bodoh betul si Anto, suaminya itu, kok nggak bersyukur punya istri semolek Susi ini.

Aku kembali menghampiri Susi dengan kembang dan air di baskom. Perlahan kembali kuusap-usapkan kembang itu dari wajah, leher, dada, dan perut Susi. Usapan-usapan erotis di bagian atas tubuh Susi membuat wanita itu menggelinjang menahan geli. Napas Susi pun mulai cepat memburu, biasanya dalam fase seperti itu, seorang wanita sedang dilanda gejolak yang mengarah birahi.

Usapanku mulai merambat turun ke arah paha, tapi belum menuju selangkangan Susi.
"Nah ketemu Mbak, sabar ya. Sudah ketemu nih tempat pasang susuknya," kataku memberi harapan.
Kembang di tanganku kembali kuusapkan di daerah paha bagian dalam dan sesekali naik menyentuh bibir vagina Susi. Gerakan mengusap seperti itu kulakukan berulang ulang di daerah yang sama, sampai akhirnya jarak kedua kaki Susi mulai merenggang. Bukan main gundukan kemaluan Susi, bulunya jarang dan bibir vaginanya kelihatan masih ranum. Aku sendiri kehilangan konsentrasi gara-gara melihat pemandangan itu. Kini kembang ditanganku aku buang dalam baskom, dan usapan di tubuh Susi kugantikan dengan tangan kananku. Susi masih terpejam dan napasnya semakin tak beraturan ketika sentuhan tanganku menjelar di atas tubuh bugilnya.
"Uhh Mas, dimana sih tempat pasang susuknya? Saya nggak kuat begini terus," Susi bertanya dengan mata tetap terpejam.
"Iya Mbak, tenang ya, ini sudah ketemu," kataku sambil menghentikan sentuhan tangan tepat di selangkangannya. Tanganku mulai memainkan bibir vagina Susi dengan tempo yang teratur dan ritme naik turun. Susi kelihatan sudah terpengaruh, nafsunya gesekan tanganku di bibir vaginanya diimbangi gerakan pinggulnya searah gerakan tanganku.
"Ohh.. geli sekali Mas disitu," Susi mulai menceracau sendiri, napasnya semakin tak beraturan.

Aku sendiri sudah tak bisa menahan nafsuku, perlahan aku buka kedua kakinya semakin lebar sehingga gundukan vaginanya terlihat makin jelas. Cairan vagina Susi semakin banjir dan tubuhnya mengejang kecil saat jemari tangan kananku menjepit-jepit klitorisnya. Wajah Susi benar-benar enak dilihat dalam keadaan seperti itu, mata terpejam dan bibir saling memaggut menahan geli dan nikmat gesekan jariku di vaginanya.
"Oke Mbak sebentar lagi ya, sekarang Mbak tahan ya saya akan pasang susuknya," pintaku.
Jari tengahku kumasukkan perlahan ke liang vagina Susi, lalu kutarik lagi keluar secara perlahan pula. Itu kulakukan berkali-kali dan terus-menerus.
"Engghh.. isshhtt.. ," Susi melenguh, pinggulnya semakin liar bergoyang dan berputar.

Susi sudah dalam kendaliku secara total, posisi tanganku di vagina Susi kini kuganti dengan jilatan lidahku di daerah vital Susi itu. Kami sudah sama sama di atas dipan itu, hanya bedanya aku masih lengkap berbusana, sedangkan Susi bugil total. Reslueting celanaku kubuka, sejak tadi aku memang sengaja tak pakai CD sehingga penisku langsung meloncat keluar begitu kancing dan reslueting celana kubuka.
"Usshh Mas.., saya nggak taahann lagi," kaki Susi menjepit kepalaku di selangkangannya, pinggulnya naik turun mendesak-desak mulutku yang menjilati klitorisnya.

Aku bangkit mengambil posisi tepat diatas tubuhnya, bibir Susi yang menceracau langsung kusumpal dengan bibirku. Saat ini Susi terbelalak membuka matanya, tapi belum sempat bereaksi apa-apa, penisku yang sudah tegang dan tepat di pinggir bibir vagina Susi segera aku benamkan keliang nikmat Susi yang sudah licin basah. Bless..!
"Nghh duhh Mass, ohh..," Susi mendesis saat penisku menembus bibir vaginanya dan masuk ke liang nikmatnya. Susi tak menolak kehadiran penisku di vaginanya. Aku berhasil menyetubuhi pasienku lagi.
"Tahan Mbak ya.. memang begini aturan prosesnya. Yang penting rumah tangga Mbak selamat ya," ujarku sambil menggenjot pinggulku di atas tubuh Susi. Tubuh Susi yang cukup mungil bagiku yang jangkung membuat aku dengan leluasa menggenjotnya dengan posisi konvensional. Penisku berkali-kali menghujam vagina Susi membuat wajah Susi semakin terlihat ayu menahan kenikmatan dari penisku.

Sampai belasan menit berlalu dengan posisi itu, akhirnya kurasakan tubuh Susi mengejang sesaat dan terasa pula denyutan kontraksi otot vaginanya pada batang penisku yang masih tegang.
"Ouhhss.. eehgghh," Susi rupanya sudah sampai klimaks, tubuhnya semakin tegang dan pinggulnya mendesak naik seperti ingin terus merasakan sensasi orgasmenya. Beberapa detik kemudian, aku pun merasa aliran darahku mengumpul di bagian pangkal penisku, dan croot.. croot.., kumuntahkan spermaku di dalam vagina Susi sementara tubuh tegangku mendekap erat tubuh Susi yang sudah lunglai.
"Sudah selesai Mbak Sus.., sekarang suamimu pasti tak akan jajan di luar lagi. Susuk pemikat sukma itu sudah kutanam di rahimmu Mbak," kataku seraya meraihnya bangkit dari dipan kayu.

Setelah berpakaian kami kembali duduk di kursi dihalangi meja kerjaku.
"Maaf ya Mbak kalau prosesnya agak seronok begitu," aku melihat Susi agak kikuk setelah sadar bahwa kami baru saja melakukan hubungan seks yang hangat.
"Ehm nggak apa Mas, yang penting rumah tangga saya utuh. Terima kasih Mas," Susi lalu bangkit dan menyodorkan uang pecahan seratus ribu padaku.
"Oke Mbak, mudah-mudahan khasiat susuknya manjur ya. Nanti kalau masih ada keluhan, Mbak boleh konsultasi lagi kesini," kataku. Susi kemudian keluar kamar dan bersama Retno, mereka pulang, meninggalkanku sendiri.

Entah susukku itu manjur atau kebetulan, sejak saat itu Susi tak pernah lagi kembali. Hanya sempat sekali dia kembali dan minta dipasang susuk pelaris warung karena ia mau buka usaha warung makan. Nah untuk kali itu meski susuknya tak kupasang di vagina, tapi Susi sendiri yang minta supaya dipasang seperti susuk pertama, biar khasiatnya ampuh katanya.

Ke bagian 2

No comments:

Post a Comment